|

Intisari Khutbah Jum’at Tentang Puasa Penghapus Dosa

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Siapa saja yang puasa Ramadhan penuh dengan iman dan ihtisab, pasti akan diampuni dosanya yang telah berlalu”. (HR. Bukhari).

Ini adalah dalil akan keutamaan puasa bulan Ramadhan, dan sebagai bukti betapa agungnya pengaruh puasa tersebut, karena dapat menghapuskan dosa-dosa yang telah berlalu.

Puasa dan qiyam Ramadan bisa menjadi penghapus dosa apabila memenuhi 3 syarat.

Pertama, seseorang yang berpuasa memiliki keimanan secara umum maupun secara khusus. Yang dimaksud dengan keimanan secara umum adalah bahwa ia terbebas dari segala bentuk kesyirikan kepada Allah. Karena satu kesyirikan pun yang dilakukan oleh hamba kepada Allah, maka jangankan puasa Ramadan, bahkan semua amalan-amalannya dihapuskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana tersurat dalam firman Allah Azza wa Jalla:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar Ayat 65).

Artinya bahwa tauhid seseorang menentukan diterima atau tidaknya semua ibadahnya. Untuk itu tauhid kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala perlu terus diperbaharui dan dibersihkan dari semua noda-noda kesyirikan.

Kemudian tauhid secara khusus atau iman secara khusus. Disebutkan oleh para ulama maksudnya di sini adalah mengimani akan kewajiban puasa Ramadan. Bahwa kita beriman kepada Allah dan kepada Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam, serta meyakini bahwa Ramadan merupakan kewajiban yang Allah berikan kepada hamba yang beriman, serta meyakini bahwa Allah benar-benar mempersiapkan pahala yang luar biasa kepada mereka yang berpuasa.

Kedua, syarat yang kedua adalah ketika seorang hamba berpuasa ia meminta dan berharap kepada Allah agar diberikan pahala yang besar. Jadi seseorang yang berpuasa tidak boleh mengatakan saya tidak butuh pahala puasa saya, berpuasa semata-mata karena Allah tanpa mengharapkan pahala.

Ini keliru yang benar adalah kita berpuasa karena Allah subhanahu wa ta’ala dan mengharapkan ganjaran dari-Nya. Ini adalah konsep iman yang diyakini oleh Ahlusunnah wal Jama’ah dimana mereka ketika beribadah kepada Allah mereka meyakini bahwa Allah akan memberikan mereka pahala atau menghindarkan mereka dari azab Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ketiga, kemudian syarat ke-3 adalah jika ingin dihapuskan oleh Allah semua dosa-dosa kita, maka hendaklah kita menjauhi segala bentuk dosa besar. Di antara pengertian dosa besar adalah semua dosa yang memiliki balasan di dunia seperti membunuh, mencuri atau ancaman di akhirat seperti syirik, ghibah atau konsekuensinya menimbulkan kemarahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Jadi ketiga ini adalah karakter dosa besar, orang yang ingin dihapuskan dosa-dosanya di siang dan di malam hari Ramadhan, hendaklah ia menjauhi segala bentuk dosa besar. Berdasarkan firman Allah:

﴾اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا ﴿النساء : ۳۱

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang (mengerjakan)-nya, niscaya Kami menghapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami memasukkanmu ke tempat yang mulia (surga). (QS. An-Nisa’: 31).

Nabi-shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ رواه مسلم (233)

Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at dan Ramadhan ke Ramadhan dapat menghapuskan dosa-dosa di antaranya, selama ia menjauhi dosa-dosa besar”. (HR. Muslim/233).

Maka hendaklah seorang muslim rakus terhadap semua penyebab yang dapat menghapuskan dosa-dosanya, untuk itu hendaklah ia memperbanyak ketaatan kepada Allah, sebagaimana hal seperti ini yang dilakukan oleh Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam.

Ditulis oleh Ustadz Makmur Dongoran, Lc, M.S.I (Pembina KSI)
Intisari dari Khutbah Jum’at, Masjid Taman Rempoa Indah (Tangerang Selatan, 2 Ramadhan 1444).

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *