Seolah-Olah Riya, Padahal Bukan Riya

Ditulis oleh Ustadz Makmur Dongoran, Lc, M.S.I (Pembina KSI)

Dipuji Tapi Bukan Riya

Imam An-Nawawi (676 H) dalam Riyadhus Shalihin (h.127) menjelaskan ada orang karena sering dipuji oleh manusia, sehingga terkesan orang tersebut riya, padahal bukan riya.

Siapakah orang itu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ : قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْعَمَلَ مِنْ الْخَيْرِ وَيَحْمَدُهُ النَّاسُ عَلَيْهِ ؟ قَالَ : ( تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ )

 “Dari Abi Dzar-radiallahu ‘anhu-berkata: “Rasulullah ditanya tentang seseorang yang beribadah atau berbuat suatu kebaikan, lalu dipuji oleh manusia? Rasulullah menjawab : “Itu adalah kabar gembira bagi seorang mukmin yang dipercepat oleh Allah”. (HR. Muslim/2642).

Syaikh Utsaimin-rahimahullah-dalam Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb (h.111) berkata:

ومن البشرى للمؤمن : أن يثني الناس عليه خيرا ؛ فإن ثناء الناس عليه بالخير شهادة منهم له على أنه من أهل الخير

“Di antara bentuk kabar gembira kepada seorang mukmin ialah; ketika manusia memberikan pujian yang baik kepadanya, karena pujian manusia kepadnya, merupakan persaksian dari manusia, bahwa dirinya adalah golongan orang baik”.

Pujian Manusia Sebagai Bukti Kecintaan Allah

Ternyata pujian manusia kepada orang-orang shalih, adalah bukti bahwa Allah mencintai hamba itu. Karena keikhlasannya dalam beribadah kepada Allah, ia pun lebih dulu dipuji di langit sebelum dipuji oleh manusia di muka bumi. Rasulullah bersabda:

عن أبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ : إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحْبِبْهُ . فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ : إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ . فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ ) .

“Dari Abu Hurairah-radiallahu ‘anhu-dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika Allah mencintai seorang hamba, Ia akan memanggil Jibril: “Sungguh Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia. Lalu Jibril pun mencintainya, lalu Jibril menyeru kepada penduduk langit: “Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah dia. Maka seluruh penduduk langit pun mencintainya”. Lalu setelah itu, si fulan itupun dijadikan sebagai manusia yang diterima di permukaan bumi”. (HR. Bukhari/3209, Muslim/2637).

Ini menunjukkan terkadang kita melihat seseorang yang rajin beribadah, ikhlas hatinya, dan bahkan tidak neko-neko, hingga ia sering dipuji-puji oleh orang lain; tetangganya, kerabatnya, rekan kerjanya dan sebagainya.

Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Syarh Riyadhus Shalihin (3/127) menyebutkan bahwa kita dapat mengambil beberapa pelajaran dari hadits di atas:

  1. Orang yang ikhlas karena Allah dalam beribadah dan berbuat baik, kemudian mendapat pujian dari manusia tidaklah disebut riya.
  2. Allah memberikan ganjaran kepada hamba yang ikhlas di dunia, berupa ucapan-ucapan yang baik terhadap dirinya. Adapun di akhirat Allah akan mengganjarnya dengan surga.
  3. Di antara bukti keridhoan Allah kepada hamba adalah Allah jadikan dirinya bermanfaat dan diterima oleh manusia.
  4. Namun mencari pujian manusia, dengan cara apapun adalah perkara yang tercela. Oleh karena itu, gambaran seorang mukmin yang dipuji pada hadits di atas adalah seorang mukmin yang beramal shalih, atau berbuat baik, atau berdakwah tujuannya bukan meminta like, follow, ataupun bentuk pujian-pujian lainnya. Tetapi murni semata-mata karena Allah ta’ala.

Jangan Asal Menuduh Seseorang Itu Riya

Maka tidak boleh bagi seorang hamba menjugde/ menilai dengan prasangka yang buruk kepada saudaranya dan menuduhnya dengan sifat riya’, hanya karena setelah melakukan kebaikan ia kemudian dipuji oleh manusia.

Ingatlah kisah imam Makhul (114 H) yang beliau langsung bercerita, tatkala dirinya pernah berburuk sangka kepada orang shalih yang menangis ketika shalat. Ibnu Abi Ad-Dunya (281 H) dalam kitab Al-‘Uqubat (h.83) meriwayatkan bahwa imam Makhul berkisah “saya melihat seseorang shalat sambil menangis, sayapun menuduhnya riya’, lalu setelah itu hampir setahun saya tidak bisa menangis”.

Semangat Ibadah Saat Ada Orang

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi )620 H) dalam Minhajul Qashidin (h. 288) mengatakan “Terkadang seseorang bermalam bersama orang-orang yang bersungguh-sungguh beribadah, dan mereka pun shalat di semalam suntuk, padahal biasanya ia hanya shalat beberapa jam saja, atau biasanya ia tidak shalat, tetapi karena bersama mereka, ia pun ikut shalat. sehingga motivasi ibadahnya meningkat disebabkan dirinya bersama orang-orang yang shalih tadi”.

Mungkin ada yang mengira bahwa ini adalah salah satu bentuk riya, sebab rajinnya ia beribadah didorong karena bersama orang-orang yang rajin beribadah.

Maka syaikh Salim bin ‘Ied dalam Syarh Riyadhus Shalihin (h. 128) mengatakan, bahwa ini tidak boleh divonis riya secara mutlak. Tetapi ini perlu penjelasan yang lebih rinci. Dimana setiap hamba yang beriman kepada Allah, diperintahkan untuk terus menjaga kualitas ibadahnya. Namun terkadang, ada penghalang yang membuatnya lalai atau lupa, sehingga dengan bersama orang-orang shalih, kelalaian itu bisa hilang. Karena biasanya jika seseorang hanya berdiam diri di rumah, rasa malas dalam beribadah lebih banyak, selain itu bisa jadi ia tersibukkan dengan kesibukan rumahnya, bercanda dengan istri dan anaknya. Padahal ada saatnya ia harus benar-benat khusu’ dalam beribadah kepada Allah. Ia juga harus benar-benar menambah kualitas maupun kuantitas ibadahnya. Dan semangat dan keikhlasan itu bisa bangkit kalau bersama orang-orang beriman lainnya.

Dalil Kebolehan Beribadah Disebabkan Motivasi Orang-Orang Shalih

Ada banyak dalil yang mengisyaratkan kebolehan akan hal itu, di antaranya:

Al-Qur’an surah Al-Furqan ayat: 27:

وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلًا

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.(Q.S. Al-Furqan: 27).

Al-Qur’an surah Al-Furqan ayat: 28:

يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku)”. (Q.S. Al-Furqan: 27).

Al-Qur’an surah Al-Furqan ayat: 29:

لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا

“Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia”. (Q.S. Al-Furqan: 27).

Juga disebutkan dalam Al-Qur’an surah Az-Zukhruf ayat 67:

ٱلْأَخِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۭ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.(QS. Az-Zukhruf: 67)

الأصدقاء على معاصي الله في الدنيا يتبرأ بعضهم من بعض يوم القيامة، لكن الذين تصادقوا على تقوى الله، فإن صداقتهم دائمة في الدنيا والآخرة.

“Orang-orang yang berteman dalam kemaksiatan kepada Allah di dunia, kelak di hari kiamat satu sama lain akan berpaling. Tetapi orang-orang yang berteman dalam ketakwaan kepada Allah, maka pertemanan mereka akan abadi di dunia dan akhirat”.

Adapun dalil dari hadits Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-, di antaranya hadits dari sahabat Abu Hurairah-radiallahu ‘anhu:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخْالِلُ

“Seseorang di atas agama sahabatnya, hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa yang hendak ia jadikan sahabatnya”. (H.R. Abu Dawud/ 4833, At-Tirmidzi/2378, Ahmad/8389).

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah telah menjelaskan pengaruh teman kepada teman lainnya. Jika temannya baik, shalih, beriman, maka ia akan menjadi motivasi bagi temannya. Sebaliknya jika ia buruk, pendosa, maka temannya pun lama-lama akan ikut menjadi buruk dan pendosa.

Semoga bermanfaat.  

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *